kepadaNya, Alloh sering menjatuhkan "batu kecil" kepada kita.
Batu Kecil
Diposting oleh
Isna Effendi
, Kamis, 07 Juni 2012 at 19.45, in
Label:
CaTaTan
kepadaNya, Alloh sering menjatuhkan "batu kecil" kepada kita.
Keep SMiLe....
Diposting oleh
Isna Effendi
, Senin, 16 Mei 2011 at 00.40, in
Label:
CaTaTan
Belakangan ini ku melihat salah seorang sahabat ku nampak murung. Kalau ditanya pasti jawabnya singkat, jelas, padat plus muka menunjukkan be te (bosan). Males juga mau tanya-tanya lebih jauh untuk mengetahui kondisi sebenarnya. Kali aja bisa bantu atau menghibur.
“ Ada apa gerangan? Apa yang harus ku lakukan sebagai seorang sahabat?” ucap ku dalam hati
Selama ini ku merasa peran ku sebagai seorang sahabat kurang sekali. Nabi pernah bersabda “Sebaik-baik sahabat atau saudara adalah seseorang yang apabila engkau lupa (khilaf atau melakukan kesalahan) maka ia mengingatkan mu dan apabila engkau ingat, ia membantu mu.” . Yup ku harus membantu mu. Tapi bagaimana caranya? Untuk mendekati kamu saja aku takut dan malas karena muka masam mu. Dengan sikap mu seperti itu aku jadi berburuk sangka juga. Apa kamu marah pada ku, sobat? Ada salahkah aku?
Tidak satu, dua kali kamu seperti itu. Saat ditanya ada apa dengan mu? Kamu selalu menjawab tidak ada masalah. Jika kamu memang tidak ada masalah maka tersenyumlah sobat. Wajah cemberut mu membuat banyak orang tidak nyaman, berburuk sangka, atau bahkan malas ngobrol dan menyapa mu.
Salah satu dosen ku dulu pernah menegur para mahasiswa nya yang berwajah muram, lemas, ngantuk dan tidak bersemangat saat belajar di kelas. Menurut beliau keadaan kita, terutama ekspresi luar kita sebenarnya mempengaruhi orang-orang sekitarnya. Jika di antara kita ada yang lemas, mengantuk, tidak bersemangat, berwajah murung maka orang-orang sekitar kita pasti ada yang tertular atau bisa juga tidak nyaman. Dosen sebagai pengajar juga merasakan tidak nyaman dan tidak bersemangat dalam mengajar jika ada mahasiswa malas, lemes, ogah-ogahan atau tidak bergairah dalam belajar. Begitu juga sebaliknya.
Tetap masih menurut dosen ku, setiap diri kita mengeluarkan energi sesuai kondisi kita yang akan mempengaruhi kondisi orang lain yang melihatnya. Kalau energi negatif yang kita keluarkan seperti, lemas, murung, tidak bersemangat dan lain sebagainya maka yang akan diterima orang yang melihatnya adalah energi negatif juga. Akibatnya sikap yang diberikan oleh si penerima sebagian negatif pula. Begitu juga kalau energi positif yang kita keluarkan seperti, tersenyum, lemah lembut, sopan, bersemangat, antusias, dan sebagainya maka orang yang melihat dan berinteraksi dengan kita akan menerima energi positif kita. Apa yang akan kita terima, sobat? Orang menyapa kita dengan balik senyuman, berinteraksi dengan kita merasa nyaman, melakukan sesuatu dengan semangat pula de el el.
Ketika kita merasa sudah memberikan energi positif namun tak berbalas dengan sikap positif, Insya Allah tetap bernilai ibadah, sobat. Bukan kah senyum kepada saudaramu adalah ibadah?
Tersenyumlah sobat...
Tidak semua orang peduli dengan masalah kita, yang mereka fikirkan adalah bagaimana sikap kita terhadap mereka? Saat duduk di sekolah menengah pertama ku pernah memiliki motto “Meski hati terluka, namun bibir tetap tersenyum”. Meski berat, ku coba terapkan motto itu saat sedih dan hasilnya membuat kondisi hati ku lebih baik walaupun masalah belum terselesaikan 100%.
I Love You Sobat... Keep SmiLe !!!
Proses itu lebih baik
Diposting oleh
Isna Effendi
, Rabu, 04 Mei 2011 at 00.24, in
Label:
CaTaTan
“Wailul.. likul... li huma.. dzatilumazah..., aladzi... jama’ama lau wa’ad da dah..,”
Ku simak suara tertatih-tatih membaca al-Qur’an beberapa mahasiswa Baca Tulis al-Qur’an (BTQ). Meski membacanya masih terbata-bata tanpa lagu alias datar-datar saja namun menentramkan hati ku. Beberapa mahasiswa nampak antusias mengikuti program BTQ, progam wajib mahasiswa yang sedang menempuh mata kuliah Agama Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di kelas mubtadi’in (dasar). Beberapa lagi masih terlihat ogah-ogahan untuk mempelajari dan membacanya.
“Hm...Bagaimana memotivasi teman2 ini agar mereka belajar al-qur’an karena memang mereka membutuhkannya..” pikir ku. Awal pertemuan sudah ku sampaikan perlunya belajar membaca al-Qur’an yang mungkin hal ini bisa memotivasi mereka. Sempat ku tanya pula menurut pendapat mereka tentang mengapa harus belajar membaca al-qur’an. “Karena al-Qur’an itu petunjuk umat Islam mbk,” jwb salah satu dari mereka. “Sebagai kitab pedoman umat Islam, ya malu lah kalau orang Islam sendiri g bisa membacanya,” timpal mahasiswa lainnya. “Membaca al-Qur’an kan mendapat pahala,” jawab lainnya tak mau kalah.
Yuup tidak ada yang salah dengan jawaban mereka. Mereka sudah mengerti lah. Namun kenapa masih ada yang ogah-ogahan. Coba ku sampaikan tujuan dengan orientasi kelulusan. “Ayoo lebih diperbanyak lagi membacanya di rumah atau di kos, terutama panjang pendeknya masih kurang. Nanti standart kelulusannya bisa membaca dengan tajwid, panjang pendek, dan kelancaran membaca. Ingat lho ya nanti kalau teman-teman tidak lulus program BTQ ini berarti g bisa ambil mata kuliah AIK di semester depan,” ujar ku.
“Hah...” nampak hampir seluruh mahasiswa terkejut. “Mbk nanti kalau ujian di tanyai tajwid g?”, “Nanti yang nguji siapa?”, “Kapan ujiannya?”, “mbk aja yang nguji, biar bisa lulus semua,” berbagai pertanyaan terlontar.
Ooo teman... belajar membaca al-Qur’an lebih dari sekedar kelulusan. Mungkin standart itu yang dijadikan teman-teman sehingga masih ogah-ogahan untuk belajar. Namun ada satu mahasiswa ingat dipertemuan awal dia membacanya sangat terbata-bata tanpa tajwid. Selama proses belajar dia juga antusias, duduk selalu di bangku depan, banyak bertanya ketika dia tidak mengerti, dan ketika ku perintahkan temen2 untuk membaca nya di rumah, dia membacanya setiap hari. Luar Biasa.. pertemuan ke tujuh banyak perkembangan dalam membaca al-Qur’an.
Semangat belajar teman-teman itulah yang sebenarnya menambah semangat ku untuk mengajar. “Lebih baik mana proses dengan hasil?,” tanya ku.
“ya proses mbk?,”
“Yup.. Allah pun lebih menilai proses dari pada hasil. Hasil baik belum tentu cara mendapatkannya dengan cara yang halal bukan?. Begitu juga dengan proses kalian dalam belajar al-Qur’an. Melalui proses itulah mendapatkan perkembangan lebih baik meskipun sedikit. Lebih baik mana seorang anak yang sudah lumayan bisa membaca al-Qur’an namun dari hari ke hari sama aja kemampuannya tidak ada perkembangan. Dengan anak yang masih terbata-bata membaca namun dia terus belajar sehingga bacaannya jauh lebih baik dari sebelumnya,” celoteh ku panjang.
Ingat dalam sebuah hadist Jika hari ini sama dengan hari kemarin maka merugi.... maka keberuntungan akan diperoleh seorang mukmin jika hari ini lebih baik dari hari kemarin. Menuju keadaan yang lebih baik itulah yang membutuhkan sebuah proses...
Teruslah belajar teman..
Belajar al-Qur’an tidak hanya berhenti sampai habisnya program BTQ..
Mungkin sekarang merasa belum butuh tapi Ku yakin suatu saat al-Qur’an akan kau butuhkan,,,
Ku tak ingin terdengar kata-kata penyesalan saat usia melapuk...
04052011
Pagi hari setelah subuh
Pengemis oh Pengemis
Diposting oleh
Isna Effendi
, Senin, 02 Mei 2011 at 00.39, in
Label:
CaTaTan
Berawal dari tugas kuliah yang diberikan salah satu dosen saya untuk membuat sebuah film dokumenter. Pada mulanya tugas yang diberikan secara berkelompok ini kami kerjakan dengan ogah-ogahan, karena kami pikir kita bukan dari jurusan Tehnik Informatika melainkan Pendidikan Islam. Namun dari tugas tersebut kami mendapatkan banyak pengalaman dan membaca fenomena lama yang baru kami ketahui.
Saat itu kami mengambil tema tentang pengemis, karena waktu itu kami sering dijumpai pengemis dengan berbagai tingkah laku mereka. Seperti pengemis yang sedikit memaksa saat meminta, pengemis menurut kami secara fisik mampu berusaha tanpa meminta dan lain sebagainya. Kurang lebih tiga minggu lebih kami mengamati tingkah laku pengemis dengan mengambil gambar mereka di berbagai tempat.
Mendengar kata pengemis mungkin kita akan berfikir mereka adalah orang yang tidak mampu dan lemah untuk mencari nafkah, memenuhi kebutuhan hidup, atau benar-benar tidak mampu mencari uang untuk mempertahankan hidupnya.
Lalu bagaimana tingkah laku pengemis sekarang? Kami menjumpai pengemis dari berbagai usia, dari anak-anak, orang dewasa, orang tua yang sehat fisiknya pun merebak dimana-mana. Mereka bukan lagi mengemis karena faktor ekonomi yang mendesak. Bukan akhir dari sebuah keputus-asaan melainkan sebuah lahan mata pencaharian baru yang banyak perolehannya.
Mereka beraksi diberbagai tempat, bisa jalan dari rumah ke rumah, duduk di perempatan jalan, di depan toko dan mereka akan pindah area ketika ada event-event besar. Seperti pawai, bazar besar, festival dan lain sebagainya.
Dengan wajah memelas mereka pun menggunakan berbagai macam properti saat beraksi, seperti pakaian kumuh, tongkat, perban, atau menggendong anak kecil. Hal ini dilakukan hanya untuk menarik rasa iba dan meraup uang lebih banyak dari penderma. Padahal sebelum mengemis mereka memakai pakaian cukup bagus (tidak kumuh), ada yang diantar dengan mengandarai sepeda motor kemudian turun dengan membawa tongkat yang pada mula tidak pincang tiba-tiba berpura-pura pincang. Ada pula yang melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan kelompok sesama pengemis dengan maksud pembagian tugas atau tempat.
Hasil yang diperolehnyapun tidak sedikit. Jika sehari mampu mendapatkan 50ribu sampai 100ribu? Kira-kira berapa yang dihasilkan mereka dalam satu bulan? Hasil yang tidak sedikit. Hasil ini melebihi gaji karyawan, guru, atau pegawai kantoran yang membutuhkan usaha untuk mendapatkannya.
Dari fenomena di atas yang perlu kami garis bawahi, mereka sebagian besar dari golongan orang Islam. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan mencari nafkan dengan jalan mengemisa atau meminta. Rasulullah saw bersabda,”.. Tangan yang diatas lebih baik dari pada tangan yang dibawah. Tangan yang di atas adalah yang member dan yang di bawah adalah yang meminta.” (HR. Muslim)
Lebih dari itu Rasulullah juga melarang mengemis/meminta ketika mereka memiliki kemampuan. Beliau bersabda,”Barang siapa yang meminta-minta kepada manusia sementara ia memiliki kemampuan, maka ia akan dating pada hari kiamat dengan bekas cakaran atau garukan diwajahnya….” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Bagaimana sikap kita menyikapi perilaku pengemis sekarang? pernahkah kita berpikir untuk masa depan mereka atau hanya memikirkan sesuatu yang bersifat sesaat?
Cinta itu Memaafkan
Diposting oleh
Isna Effendi
, at 00.33, in
Label:
CaTaTan

Implementasi sebuah cinta tak semudah awal mengikrarkannya. Menjaganya jauh lebih sulit. Dalam perjalanannya banyak lika-liku yang harus dilewati. Kesabaran, keteguhan, kekuatan, dan keikhlasan dibutuhkan untuk menghadapi lika-liku yang ada. Seseorang harus siap dengan segala yang akan terjadi di dalam perjalanan cinta.Luka juga akan selalu mengiringgi perjalanan cinta baik dari masalah pribadi maupun gangguan dari luar. Namun luka dapat diminimalisir jika mengetahui dan memaknai cinta lebih dalam.
Mengambil makna cinta milik Roswita Ndraha dalam bukunya “Mencinta Hingga Terluka” cinta bukanlah perasaan, keinginan, atau pikiran. Cinta bukanlah sekedar harapan dan cita-cita dalam diri kita. Cinta adalah ketrampilan. Cinta sejati adalah cinta yang dihidupi dan dimiliki lewat berbagai ujian. Cinta sejati justru diuji oleh peristiwa dan orang, yang menaburkan hal-hal yang bertentangan dengan cinta itu sendiri. Cinta itu sabar, cinta itu memaafkan, cinta itu tangguh, cinta itu berkorban, dan cinta memulihkan. Dari hal tersebut menyadari bahwa cinta itu membutuhkan latihan, ujian cinta juga membutuhkan pembelajaran yang konsisten.
Cinta itu memaafkan…
Memaafkan bukan berarti melupakan.. memaafkan karena itu akan menjadi kenangan, kenangan yang akan memberi kita banyak pelajaran dan membuat kita lebih bijak dalam hidup. Luka bisa menjadi investasi, membangun empati dalam diri kita ketika membimbing orang lain yang terluka sama seperti kita.



