GuDang eLmu
this site the web

CIRI-CIRI KEMODERENAN DALAM PEMIKIRAN AL-AFGHANI DAN MUHAMMAD ABDUH

Ketika kondisi umat Islam saat itu digambarkan suatu masyarakat yang beku, kaku, menutup rapat-rapat pintu ijtihad, mengabaikan peranan aqal dalam memahami syari’at Allah atau mengistimbatkan hukum-hukum, karena mereka telah merasa cukup dengan hasil karya para pendahulunya yang juga hidup dalam masa kebekuan aqal (jumud), serta yang berdasarkan khurafat-khurafat, Muhammad Abduh muncul dengan pemikirannya yang membebaskan aqal fikiran dari belenggu-belenggu taqlid. Menurut Abduh hal inilah yang menghambat perkembangan pengetahuan agama sebagaimana haqnya salaful ummah, yakni memahami langsung dari sumber pokoknya, Al-Qur’an dan Hadits.

Menurut Muhammad Abduh, aqal dapat mengetahui hal-hal berikut ini:

1. Tuhan dan sifat-sifat-Nya.

2. Keberadaan hidup di akhirat.

3. Kebahagian jiwa di akhirat bergantung pada upaya mengenal Tuhan dan berbuat baik,kesengsaraannya bergantung pada sikap tidak mengenal Tuhan dan melakukan perbuatan jahat.

4. Kewajiban manusia mengenal Tuhan.

5. Kewajiban manusia untuk berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat untuk kebahagiaan di akhirat.

6. Hukum-hukum mengenai kewajiban-kewajiban itu.

Bagi Muhamamd abduh, di samping mempunyai daya fikir, manusia juga mempunyai kebebasan memilih, yang merupakan sifat dasar alami yang ada dalam diri manusia. Kalau sifat dasar ini dihilangkan dari dirinya, maka ia bukan manusia lagi, tetapi makhluk lain. Manusia dengan aqalnya mampu mempertimbangkan akibat perbuatan yang dilakukannya, kemudian mengambil keputusan dengan kemauannya sendiri, dan selanjutnya mewujudkan perbuatannya itu dengan daya yang ada dalam dirinya.

Dengan memperhatikan pandangan Muhammad Abduh tentang peranan aqal dan kebebasan memilih bagi manusia di atas menampakkan segi pemikiran Muhammad Abduh tersebut mencirikan kemoderenannya.

Tak jauh beda dengan Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani berpendapat bahawa umat Islam ketinggalan kerana kejumudan dan ‘ketaatan’ mereka pada tradisi. Dalam keadaan ini, kejayaan umat Islam hanyalah cita-cita yang kosong belaka. Dalam salah satu tulisannya di dalam al-‘Urwah al-Wusqa, beliau menegaskan bahawa tindakan manusia bersumberkan dari pada fikiran. Tindakan ini memperkukuhkan fikiran yang dibawanya. Kebekuan fikiran dan tindakan yang berlangsung terus meneruslah yang menyebabkan kemunduran dalam dunia Islam.

Disamping itu, Afghani mengagungkan pencapaian ilmu pengetahuan Barat. Ia tak melihat adanya kontradiksi antara Islam dan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan Barat dapat dipisahkan dari ideologi Barat. Barat mampu menjajah Islam karena memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi itu, sebab itu kaum Muslim harus juga menguasainya agar dapat melawan imperialisme Barat. Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah alat, sedangkan tujuan yang ingin dicapai ditentukan oleh agama Islam. Di sini sudah tampak bibit pandangan instrumentalistik, yaitu anggapan bahwa ilmu pengetahuan hanyalah alat untuk prakiraan dan pengendalian, dan sama sekali tak berbicara tentang kebenaran. Pandangan al-Afghani ini didukung oleh gagasannya bahwa Islam menganjurkan pengembangan pemikiran rasional dan mengecam sikap taklid. Dalam hal ini yang dianjurkannya bukan hanya pengkajian ilmu pengetahuan tetapi juga pengembangan filsafat Islam yang telah lama mandek.

Dua pandangan inilah al-Afghani yang menjadikan dia termasuk tipe modernism dalam tipologi yang diklasifikasikan Rahman.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

W3C Validations

Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Morbi dapibus dolor sit amet metus suscipit iaculis. Quisque at nulla eu elit adipiscing tempor.

Usage Policies